Wahai ayah, apa nasihat yang pertama-tama ingin engkau sampaikan kepada pemuda yang telah sampai pada umur baligh ini?
Berpindahnya dirimu pada masa ini mengharuskanmu untuk berfikir banyak tentang dirimu sendiri. Hendaknya engkau evaluasi seluruh hidupmu. Bila telah berlalu suatu hari maka ia tidak akan kembali lagi kepada dirimu.
Kemudian mulailah dengan beribadah kepada Allah. Dan sesuatu yang terpenting adalah shalat. Ia, sebagaimana disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah :
إن أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة من عمله صلاته، فإن صلحت فقد أفلح وأنجح، وإن فسدت فقد خاب وخسر، فإن انتقص من فريضته شيء قال الرب عز وجل : انظروا هل لعبدي من تطوع؟ فيكمل بها ما انتقص من الفريضة، ثم يكون سائر عمله على ذلك.
“Sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat dari amalnya adalah shalatnya. Jika shalatnya baik maka ia beruntung dan berhasil. Jika shalatnya rusak maka ia benar-benar merugi. Jika dari kewajibannya (shalat) terdapat suatu kekurangan maka Tuhan ‘Azza wa Jalla berfirman : lihatlah, apakah hambaku memiliki (shalat) sunnah? Lalu disempurnakanlah dengannya apa yang kurang dari (shalat) wajib, lalu seluruh amalnya seperti demkian.”( ).
Ketika saya wasiatkan kepadamu untuk menjaga masalah shalat itu tidak berarti saya menuduhmu telah meninggalkan shalat sama sekali, tetapi bagaimana halnya dengan shalat jamaahmu? Apakah engkau memperhatikan kekhusyua’an dalam shalatmu? Apakah engkau menjalankannya dengan penuh thuma’ninah? Apakah engkau menjaga semua adabnya?
Selanjutnya, lihatlah bagaimana keadaanmu dengan kedua orang tuamu, apakah engkau telah berbuat baik kepada keduanya? Allah telah mengiringkan hak keduanya dengan hak Allah Tabaraka wata’ala, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengelompokkan durhaka kepada kedua orang tua termasuk dosa terbesar. Anas Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam ditanya tentang dosa besar, maka beliau menjawab :
الإشراك بالله وعقوق الوالدين، وقتل النفس، وشهادة الزور.
“Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa dan bersaksi secara dusta.”( ).
Lalu perhatikan kembali lisanmu dan segenap anggota tubuhmu, lalu perhatikan pula siapa kawan-kawanmu. Dan ketahuilah, pada hari kiamat, setiap manusia akan dikumpulkan oleh Allah berama orang yang dicintainya, dan bahwa ia akan mengikuti agama kekasihnya.
Selanjutnya apa yang menjadi pusat perhatianmu? Apakah kamu masih hidup dengan keinginan-keinginan seperti anak-anak dan masih berfikir dengan cara berfikir mereka? Engkau telah meninggalkan masa kanak-kanak dan mulai masuk pada dunia orang-orang dewasa dengan segala konsekwensi yang dikandung oleh makna kalimat tersebut. Kemudian apa saja harapan-harapan dan impian-impianmu? Harapan-harapan dan impian-impianmu itu hendaknya tidak berhenti pada kehidupan dunia ini saja, tetapi hendaknya melampauinya.
Ya, karena itu, engkau sangat memperhatikan dan berfikir banyak tentang keadaan dirimu. Lalu hendaknya engkau memperbaikinya, sehingga Tuhan dan Penguasa dirimu menjadi ridha.
• Tetapi wahai ayah, sebagian pemuda mengatakan, nikmatilah masa mudamu, dan nanti ketika tua kamu bisa mencarikan ganti apa yang hilang darimu.
Anakku, logika tersebut sangat jauh dari realita Karena beberapa hal :
Pertama : kenikmatan yang sesungguhnya adalah dalam mentaati Allah dan dalam beristiqamah dalam syari’atNya, tetapi orang-orang yang berpaling tidak mengetahui akan hal tersebut.
Kedua : masa muda adalah masa yang tak mungkin ada gantinya, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengabarkan bahwa pada hari kiamat, saat kepanikan manusia yang luar biasa, dan ketika matahari mendekat hingga sekitar satu mil, pada hari itu Allah memuliakan sekelompok hambanya dengan memberikan perlindungan kepada mereka. Di antara kelompok itu adalah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. Lalu, apakah mungkin kenikmatan dunia yang sesaat ini bisa dibandingkan dengan kenikmatan dan kemuliaan rabbani?
Ketiga : setiap orang akan ditanya pada hari kiamat tentang beberapa perkara. Di antaranya tentang umur, kemudian ditanya pula tentang masa mudanya, karena itu ia akan ditanya tentang masa muda sebanyak dua kali. Demi Allah, apa yang bakal dikatakan oleh orang yang suka melakukan perbuatan sia-sia dan lengah?
Keempat : masa muda adalah masa kekuatan, dinamis dan penuh semangat. Masa itu akan habis bila sampai kepada masa penurunan usia. Pada saat itu manusia akan berada pada kondisi sebagaimana disebutkan Allah dalam firmannya :
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ (الروم:54)
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah kuat itu menjadi lemah kembali dan beruban. Dia menciptakan apa saja yang dikehendakinya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Ar-Rum : 54).
Apakah boleh orang yang berakal mengatakan: “Saya akan tunda kesungguhan dalam mentaati Allah dan beribadah kepadaNya, sampai berlalu masa muda, masa yang penuh kehidupan, semangat dan kekuatan?, sampai kemudian datang masa tua lemah dan tak berdaya?
Kelima : dan ini yang terpenting, siapa yang bisa menjamin bahwa pemuda itu umurnya akan panjang sampai mencapai usia tua? Bisa jadi ia keduluan ajal saat masih muda, dan kalau lah ada yang manjamin bahwa ia bisa sampai tua, siapakah yang menjamin ia akan bisa istiqamah dan bertaubat?
